Memahami Hubungan US Treasury 10 Tahun dan SBN Indonesia 10 Tahun
Mengapa Tidak Selalu Bergerak Searah?
Pendahuluan
Dalam analisis pasar keuangan global, US Treasury (UST) sering dipandang sebagai risk-free benchmark, sementara Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia merupakan obligasi emerging market dengan risk premium lebih tinggi.
Banyak investor berasumsi sederhana:
Jika yield US Treasury naik, maka yield SBN Indonesia pasti ikut naik.
Kenyataannya, hubungan keduanya jauh lebih kompleks. Artikel ini membahas:
Peran UST dan SBN dalam sistem keuangan
Hubungan struktural antara keduanya
Interpretasi dua grafik empiris: time series dan scatter plot
Apa Itu US Treasury 10 Tahun (UST 10Y)
US Treasury 10Y adalah surat utang pemerintah Amerika Serikat dengan tenor 10 tahun dan berfungsi sebagai:
Acuan suku bunga global
Instrumen bebas risiko secara internasional
Dasar penilaian obligasi dan saham global
Faktor utama yang memengaruhi yield UST 10Y:
Kebijakan The Fed
Inflasi dan ekspektasi inflasi AS
Data tenaga kerja
Sentimen risiko global (risk-on / risk-off)
Defisit fiskal AS
Apa Itu SBN Indonesia 10 Tahun
SBN 10Y adalah obligasi pemerintah Indonesia dengan tenor 10 tahun yang mencerminkan:
Ekspektasi inflasi domestik
Kebijakan moneter Bank Indonesia
Risiko fiskal dan nilai tukar
Persepsi investor terhadap Indonesia
Dibanding UST, SBN memiliki:
Yield lebih tinggi
Likuiditas lebih rendah
Sensitivitas kuat terhadap faktor domestik
Hubungan Konseptual UST dan SBN
Secara sederhana:
Yield SBN = Yield UST + Risk Premium Indonesia
Risk premium tersebut mencakup:
Risiko nilai tukar (USD/IDR)
Risiko fiskal
Risiko kebijakan
Risiko likuiditas
Namun hubungan ini tidak bekerja secara mekanis dari hari ke hari.
Analisis Grafik 1
Time Series Yield UST 10Y vs SBN 10Y (2015–2025)

Temuan Utama
Perbedaan level yield
UST 10Y: ±0,5%–5%
SBN 10Y: ±6%–9%
Arah jangka panjang sejalan
Keduanya turun saat krisis COVID-19
Keduanya naik saat inflasi global melonjak
Volatilitas berbeda
UST lebih reaktif terhadap data makro
SBN lebih stabil karena peran Bank Indonesia dan investor domestik
Divergensi penting
Tahun 2020: UST jatuh tajam
SBN turun terbatas → efek penyangga kebijakan domestik
Kesimpulan:
UST bertindak sebagai leading indicator, sedangkan SBN mencerminkan respons akhir Indonesia.
Analisis Grafik 2
Scatter Plot Hubungan Yield UST 10Y dan SBN 10Y

Temuan yang Terlihat
Garis regresi menunjukkan hubungan negatif:
Saat UST lebih tinggi, SBN justru cenderung lebih rendah.
Ini sering disalahartikan sebagai hubungan sebab-akibat langsung, padahal bukan demikian.
Penjelasan Kunci: Regime Effect & Simpson’s Paradox
Hubungan negatif muncul karena pergeseran rezim waktu.
Pembagian rezim kasar:
2015–2019: UST rendah, SBN tinggi
2020: UST sangat rendah, SBN turun terbatas
2022–2024: UST tinggi, SBN lebih rendah dan stabil
Jika semua periode digabung:
Masa lama: UST rendah ↔ SBN tinggi
Masa baru: UST tinggi ↔ SBN lebih rendah
Hasilnya adalah slope negatif secara statistik, contoh klasik Simpson’s Paradox dalam data makro.
Implikasi untuk Analisis dan Investasi
Yang Perlu Dihindari
Regresi statis sederhana tanpa konteks waktu:
lm(sbn10 ~ ust10)
Pendekatan yang Lebih Tepat
Analisis perubahan yield (Δ)
Rolling correlation / rolling beta
Model VAR dan impulse response
Menambahkan variabel kontrol:
BI Rate
USD/IDR
Inflasi
Dummy krisis
Kesimpulan
UST 10Y adalah jangkar suku bunga global
SBN 10Y mencerminkan interaksi global dan domestik
Hubungan keduanya tidak linear dan bergantung pada rezim
Grafik time series dan scatter harus dibaca bersama
UST memberi sinyal awal, SBN menunjukkan hasil akhir.
Materi Tambahan
Data yield SBN dan UST diperoleh dari website investing.com
Berikut ini adalah luaran R console untuk memvisualisasikan grafik 1 dan 2 pada pembahasan ini.
> library(quantmod)
> library(tidyverse)
> library(lubridate)
> library(readxl)
>
> setwd("D:\\Invest\\UST dan SBN")
>
> ust10 <- read_excel("ust10.xlsx")%>%
+ rename(date = Date2,
+ ust10 = Price) %>%
+ mutate(date = as.Date(date))%>%
+ select(date,ust10)
> head(ust10)
# A tibble: 6 × 2
date ust10
<date> <dbl>
1 2025-12-24 4.13
2 2025-12-23 4.17
3 2025-12-22 4.17
4 2025-12-19 4.15
5 2025-12-18 4.12
6 2025-12-17 4.15
>
> sbn10 <- read_excel("sbn10.xlsx") %>%
+ rename(date = Tanggal,
+ sbn10 = Terakhir) %>%
+ mutate(date = as.Date(date)) %>%
+ select(date,sbn10) %>%
+ mutate(sbn10 = sbn10/1000)
>
> head(sbn10)
# A tibble: 6 × 2
date sbn10
<date> <dbl>
1 2025-12-24 6.12
2 2025-12-23 6.14
3 2025-12-22 6.14
4 2025-12-19 6.13
5 2025-12-18 6.12
6 2025-12-17 6.13
>
> bond_df <- ust10 %>%
+ inner_join(sbn10, by = "date") %>%
+ drop_na()
>
> bond_df %>%
+ pivot_longer(cols = c(ust10, sbn10),
+ names_to = "yield_type",
+ values_to = "yield") %>%
+ ggplot(aes(x = date, y = yield, color = yield_type)) +
+ geom_line() +
+ labs(
+ title = "Yield US Treasury 10Y vs SBN Indonesia 10Y",
+ x = "Tanggal",
+ y = "Yield (%)",
+ color = ""
+ ) +
+ theme_minimal()
>
> cor(bond_df$ust10, bond_df$sbn10, use = "complete.obs")
[1] -0.1703575
>
> ggplot(bond_df, aes(x = ust10, y = sbn10)) +
+ geom_point(alpha = 0.5) +
+ geom_smooth(method = "lm", se = FALSE) +
+ labs(
+ title = "Hubungan Yield UST 10Y dan SBN 10Y",
+ x = "UST 10Y (%)",
+ y = "SBN 10Y (%)"
+ ) +
+ theme_minimal()